FILSAFAT UMUM (IDEALISME PLATO)
DISUSUN OLEH KELOMPOK 4
1. Imelda Indriyani (210101032)
2. Iskandar (210101035)
3. Susilawati (210101090)
Kelas : PAI I C
Dosen Pengampuh : Endang Switri M.Pd.I
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sebagian besar orang mengatakan bahwa filsafat itu
sangat susah dan sulit, namun demikian orang-orang tersebut tidak menyadari
bahwa keseharian mereka di isi dengan filsafat, atau bisa dikatakan mereka
telah berfilsafat dalam kehidupannya. Pemikiran seperti ini didasari, karena
pemahaman mereka tentang filsafat masih sangat sedikit dan bahkan belum tau
tentang filsafat itu apa.
Orang-orang terdahulu hingga sekarang, yang mencintai
filsafat atau para filosof mengartikan filsafat yaitu mencintai kebijaksanaan,
sehingga ketika berfilsafat berarti mereka telah mencintai kebijaksanaan, namun
bukan berarti merasa dirinya sudah benar. Cinta kebijaksaan berarti akan selalu
mencari bagaimana mendapatkan kebijaksaan itu, karena hal yang kita cintai
tentulah ada usaha untuk mendapatkan hal tersebut. Sejarah tentang filsafat ini
membawa kita untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang pemikiran-pemikiran
para filosof terdahulu. Dengan hasrat ingin mengetahui pemikiran tersebut,
membawa kita untuk lebih dalam lagi mengkaji tentang pemikiran filosof-filosof
itu. Perlunya mengkaji pemikiran tersebut adalah sebagai sarana untuk
merangsang pikiran kita untuk bisa lebih berkembang lagi, dan lebih luas lagi.
Dari sekian banyak pemikiran tersebut pemakalah akan mengangkat tentang
pemikiran filosof Plato dan Aristoteles. Pemikiran Plato dan Aristoteles ini
sangat menarik untuk di bahas, karena sebagaimana kita ketahui bahwa Plato dan
Aristoteles dikenal sebagai bapak Filsafat.
Atas dasar pemikiran Plato dan Aristoteles inilah yang
menjadi latar belakang pembuatan makalah ini, Sejarah filosof dari thales
sampai socrates belum pernah terdengar bahwa mereka menuangkan pemikiran mereka
ke dalam sebuah tulisan, karena mereka lebih bersifat dialektika. Namun,
setelah masuk zamannya Plato, kemudian pemikiran-pemikiran filsafat itu pun
dibukukan, sehingga ada sebuah pedoman atau bahan untuk generasi berikutnya
yang ingin mengkaji tentang pemikiran para filosof terdahulu.
B.Rumusan Masalah
1. Bagaimana
biografi Plato?
2. Apa
saja idealisme Plato tentang ilmu filsafat?
3. Bagaimana
ajaran Plato?
B.Tujuan
Tujuan
dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui biografi Plato
2. Untuk
mengetahui idealisme Plato tentang ilmu filsafat
3. Untuk mengetahui ajaran Plato
BAB II
PEMBAHASAN
A.Biografi Plato
Plato lahir sekitar tahun 427 SM di Athena. Kemudian
Plato meninggal pada tahun 347 SM pada
usia yang ke 80 tahun. Plato juga dikenal sebagai filsuf yunani kuno dan
penulis philosophical dialogues sekaligus pendiri dari Akademik Platonik
di Athena.Plato mempunyai dua saudara yang bernama Adimantes dan Glaukon serta
satu saudari yang bernama Potone.[1]
Ayah Plato bernama ariston yang
berasal dari keturunan raja Krodus yang hidup sekitar abad ke 1068 SM, dan
ibunya bernama Periktione, yang berasal dari keturunan sonon yang hidup sekitar
abad ke 968 SM. Sedangkan nama asli Plato adalah Aristoteles, mengingat
aristoteles mempunyai bahu dan dahi yang lebar maka aristoteles dijuluki dengan
nama Plato (kelebarannya/lebarnya) oleh seorang pelatih senam Aristoteles
dahulu. Oleh karena itu Aristoteles dipanggil Plato yang menjadi nama
panggilannya sehari-hari.
Ketika Plato masih kecil ia mendapat pendidikan dari
guru-guru filosofi.Plato memperoleh pelajaran Filosofi diawali dengan adanya
kratylos yang merupakan murid herakleitos. Sejak itulah Plato mengikuti
pelajaran socrates yang pada saat itu Plato berusia 21 tahun. Ia menjadi murid
socrates yang setia hingga akhir hidupnya socrates tetap menjadi pujaannya.
B.Idealisme Plato Tentang
Ilmu Filsafat
1.Ajaran Tentang Ide
Ajaran tentang
ide-ide merupakan dasar seluruh filsafat Plato. Namun, arti ide yang dimaksud
oleh Plato ini berbeda dari kebanyakan pengertian orang-orang modern yang hanya
menganggap bahwa Ajaran tentang ide adalah suatu tanggapan yang hanya di dalam
pemikiran saja. Sehingga orang-orang akan mengartikan bahwa ide merupakan
suatu yang bersifat subjektif berpikir
saja. Plato mengatakan bahwa seluruh
yang ada di entitas ini semuanya ada di dalam ide tersebut, misalnya alam di analogikan sebagai cetakan kue dan kue-kuenya
itu adalah entitas-entitasnya.Menurut Plato ide-ide tidak bergantung pada
pemikiran, begitupun sebaliknya pemikiran bergantung pada ide-ide. Justru
karena ada ide-ide yang berdiri sendiri. Pemikiran itu tidak lain dari pada
menaruh perhatian kepada ide-ide itu.[2]
2.Adanya ide-ide
Awal mula pemikiran Plato tentang ide-ide yaitu
berawal dari terinspirasinya plato dari gurunya yang bernama socrates. Dimana
socrates berusaha mencari definisi-definisi, karena ia belum merasa cukup
dengan pengetahuannya. Ia ingin menyatakan apa keadilan itu sendiri, atau socrates
mencoba mencari tahu dari esensi keutamaan-keutamaan lain tersebut.Semenjak pemikiran-pemikiran
guruya yang bernama socrates ini Plato meneruskan usaha gurunya lebih jauh lagi.jadi
Menurut Plato itu mempunyai realitas, Ide keadilan, ide keberanian dan ide-ide
lain[3]
Menurut Plato realitas
itu terbagi menjadi dua yakni:
A.Dunia Indrawi
Realitas yang pertama ini yakni adalah yang mencakup
benda-benda jasmani yang disajikan kepada panca indra, atau bisa dikatakan
relaitas yang pertama yang dimaksud Plato adalah sesuatu yang dapat dijangkau
oleh indra seperti bunga, pohon dan lain-lain. Pada taraf ini harus diakui
bahwa semuanya tetap berada dalam perubahan. Bunga yang kini bagus keesokan
harinya sudah layu, lagi pula dunia indrawi ditandai oleh pluralitas. Sehingga
bunga tadi, masih ada banyak hal yang bagus juga.
a) Dunia
ide
Disamping ada dunia indrawi yang
senantiasa berubah, menurut Plato ada juga sebuah dunia yang tidak pernah
berubah yakni disebut dunia yang terdiri atas ide. Semua ide bersifat abadi dan
tak terubahkan. Dalam dunia ideal tidak ada banyak hal yang bagus karena hanya
terdapat satu ide “ yang bagus”. Demikian
pula dengan ide-ide yang lain yang bersifat abadi dan sempurna. Namun,
ketika Plato mengatakan bahwa dunia itu ada yakni dunia indrawi dan dunia
ideal, kemudian apa keterkaitan antara kedua dengan dunia ini tersebut? Ide-ide
sama sekali tidak di pengaruhi oleh benda-benda jasmani. Lingkaran yang
digambarkan pada papan tulis lalu di hapus lagi, sama sekali tidak mempengaruhi ide “lingkaran”. Tetapi Ide-ide
mendasari dan menyebabkan benda-benda jasmani. Hubungan antara ide-ide dan
realitas jasmani bersifat seperti yang ada di atas, sehingga benda-benda
jasmani tidak bisa tanpa pendasaran oleh Ide-ide itu.
B. Manusia Menurut
Plato
Plato menganggap jiwa sebagai pusat atau inti sari
keperibadian manusia. Dalam anggapannya tentang jiwa, Plato tidak saja
dipengaruhi oleh socrates, tetapi juga oleh orfisme dan madzhab Pythagorean.
a). Dasar
Manusia
Dasar
manusia menurut plato adalah jiwa dan raga. Menurut plato manusia adalah
makhluk ganda. Manusia memiliki sifat yang tunduk pada takdir, selain itu
manusia juga memiliki indera pada tubuhnya seperti indera penglihatan,
pendengar, dan indera pencium aroma dari sesuatu. Menurut plato manusia itu
bersifat jiwa yang abadi dan berakal oleh karena itulah dengan adanya akal
manusia menghasilkan ide-ide yang baru.[4]
b).Mengenal sama dengan
mengingat
Menurut
plato manusia telah diciptakan jiwanya terlebih dahulu sebelum manusia ditempatkan
di dunia dan sebelum jiwa manusia disatukan dengan badan. Maka dapat
disimpulkan bahwa tidak semua jiwa melihat hal yang sama, karena manusia adalah
jiwa sendiri, sedangkan badan berfungsi untuk memberikan kesempurnaan atau
melengkapi dari jiwa. berdasarkan pendiriannya plato tentang Pra Eksistensi
jiwa. Plato mengemukakan bahwa tidak
lain dari pada pengingatan akan ide-ide yang telah dilihat pada waktu Pra
Eksistensi itu.[5]
c). Bagian-bagian jiwa
Jiwa
terdiri dari 3 bagian atau fungsi. Fungsi
yang dimaksud Plato adalah bahwa jiwa mempunyai keluasan yang dapat
dibagi-bagi. Ada tiga fungsi jiwa tertentu yang menjadi kemajuan besar dalam
pandangan filsafat tentang manusia. Bagian pertama ialah rasional (to
logistikon). Bagian kedua ialah keberanian
(to thymoaeides). Dan bagian ketiga ialah
keinginan (to epithymetikon). Bagian keberanian dapat menunjukkan dengan
kehendak, sedangkan bagian keinginan menunjukkan hawa nafsu.
Plato menghubungkan ketiga fungsi dari bagian-bagian
jiwa masing-masing tersebut dengan keutamaan tertentu. Bagian keinginan
mempunyai pengendalian diri (sophorosyn). Sedangkan “bagian keberanian”
keutamaan yang spesifik (andreia). Dan “bagian rasional” yaitu keutamaan
kebijaksanaan (phronesis atau sophia). Dikatakan bahwa hukum lah yang
membuat jiwa di penjarakan dalam tubuh.
Secara mitologi ibaratkan jiwa adalah laksana kereta yang bersais atau rasional
yang di tarik oleh dua kuda bersayap, yaitu kuda kebenaran, yang lari keatas,
ke dunia ide, dan kuda keinginan atau nafsu, yang lari ke bawah, ke dunia
gejala. Dalam tarik-menarik itu akhirnya nafsu lah yang menang, sehingga kereta
itu jatuh ke dunia gejala maka dipenjarakanlah jiwa tersebut. Agar jiwa
terhindar dari penjara. Maka sebaiknya orang harus mendapatkan pengetahuan
terlebih dahulu,sehingga orang dapat melihat ide-ide, melihat ke atas. Jiwa
yang berusaha mendapatkan pengetahuan itu kelak setelah orang mati, jiwa akan
menikmati kebahagiaan melihat ide-ide, seperti yang telah dia alami sebelum
dipenjarakan di dalam tubuh. Menurut Plato bahwa ada praeksistensi jiwa dan
jiwa tidak dapat mati. Hidup di dunia bersifat sementara saja, walaupun
manusia sangat terpikat dengan
dunia gejala yang membuat sukar baginya untuk naik ke
dunia ide. Hanya orang yang bersungguh sungguh lah yang akan berhasil dalam
mencari pengetahuan. Tetapi kebanyakan sedikit orang yang berhasil, karena
masyarakat tersebut tidak mengerti perbuatan orang bijak yang berusaha untuk menahan orang bijak di dunia gejala ini
dan terhindar dari jalan yang salah.[6]
3.Ajaran Nilai Plato
Dikatakan dalam buku-buku yang menjelaskan tentang
Plato, sebagian besar membahas tentang pemikiran-pemikiran Plato
dibandingkan sejarah beliau. Disamping
itu Plato menjelaskan ajaran-ajaran tentang ide dan jiwa, namun Plato juga
mengeluarkan pemikiran yang berkaitan dengan ketata negaraan. Plato membahas
tentang sebuah negara yang ideal yakni disebutkan bahwa puncak pemikiran Plato
adalah pemikiran tentang negara, yang
tertera dalam bukunya polites dan nomoi. Pemikirannya tentang negara ini
adalah untuk upaya memperbaiki keadaan negara yang telah rusak dan buruk.
Di athena pada waktu itu memiliki suatu sistem negara
yang buruk menurut Plato, sehingga mendorong beliau untuk membuat suatu konsep
yang bisa memperbaiki konsep negara yang buruk itu. Konsepnya tentang negara
yang dikeluarkan oleh Plato yakni konsep negara yang di dalamnya terkait etika
dan teorinya tentang negara yang ideal. Konsep etika yang dikemukakan oleh
Plato seperti halnya konsep etika yang dikeluarkan
socrates gurunya sendiri, yakni tujuan hidup manusia adalah hidup yang baik
(eudamonia atau well-being).
Akan tetapi untuk hidup yang baik tidak mungkin
dilakukan tanpa di dalam negara. Alasannya, karena manusia mempunyai kodrat
yakni makhluk yang sosial dan di dalam polis (negara). Sehingga untuk mendapatkan hidup yang baik
harus di dalam negara yang baik.
Dan sebaliknya, negara yang jelek atau buruk tidak
mungkin menjadikan para warganya hidup dengan baik. Menurut Plato, untuk
membangun sebuah negara yang ideal diperlukan sebuah konsep tentang negara yang
baik. Menurutnya, negara yang ideal harus terdapat tiga golongan yang menjadi
bagian terpenting dalam sebuah negara yakni:
a.
Golongan yang tertinggi, terdiri dari orang-orang yang memerintah yakni seorang
filosof.
b.
Golongan pelengkap atau menengah yakni yang terdiri dari para prajurit, yang
bertugas untuk menjaga keamanan negaradan menjaga ketaatan para warganya.
c.
Golongan terendah atau golongan rakyat biasa, yakni yang terdiri para petani,
pedagang, tukang, yang bertugas untuk memikul ekonomi negara.
Menurut Plato terciptanya negara yang baik tergantung
pada siapa yang memerintah, jika akal yang memerintah sebagaimana kepala
mengatur tubuh, maka filosoflah yang harus mengatur masyarakat, sehingga dia
mengatakan bahwa negara yang baik tidak akan pernah ada apabila filosof belum
menjadi pemimpin di negara tersebut.
A A. Pemikiran
Plato tentang ide
Sebelumnya plato telah mengemukakan
tentang persoalan yakni tentang sesuatu yang berubah maupun yang tidak berubah
atau tetap. Persoalan ini merupakan pemikiran antara dua orang yaitu
Herakleitos dan Parmenidas. Tidak hanya
itu plato juga memberikan solusi yaitu dengan mengemukakan gagasan bahwa
terdapat ada sesuatu yang tetap dan ada pula yang berubah. Semenjak itulah
Plato menyetujui pendapat dari keduanya atau pendapat Herakleitos dan
Parmenidas keduanya mengemukakan bahwa sesuatu yang tetap kekal ataupun yang
tidak dapat berubah itu adalah “idea” atau ide.
Menurut plato ide merupakan sesuatu
hal yang dapat memimpin pemikiran manusia itu sendiri. Dan ide bukanlah hasil
dari pemikiran subjektif, melainkan ide itu merupakan bersifat subjektif. Dan
ide tidak lepas dari subjek yang membuat kita berpikir terlebih dahulu sebelim
kita melakukan suatu hal perbuatan yang memiliki perbedaan tersendiri. Meskipun
tiap orang memiliki perbedaan dari yang lain dan perbedaan pemikiran tersebut
akan ada meskipun ia anak kembar, tetap saja orang adalah manusia memiliki
nilai pemikiran yang berbeda dan idenya demikian tidak bisa dirubah. Misalnya
suatu pengamatan yang diteteliti oleh beberapa orang kemudian hasil dari pengamatan
tersebut akan dinilai oleh beberapa orang yang mengamati penelitian barusan.
Dari situ kita dapat melihat hasil penelitian dari beberapa orang tersebut
memiliki pengungkapan pendapat yang berbeda atau pendapat yang bervariasi.
Beberapa orang tersebut mengamati satu benda yang sama, tetapi masing-masing
orang punya pendapat yang lain, yang memiliki perbedaan tersendiri bagi
beberapa orang yang mengungkapkan pendapat ketika selesai melakukan suatu
penelitian. [7]
B. Pemikiran
Plato tentang etika
Menurut plato tujuan hidup manusia
yaitu untuk kehidupan yang senang dan bahagia. Tetapi apa yang dimaksud plato
kesenangan dan kebahagiaan itu? Menurut plato kesenangan dan kebahagiaan itu bukanlah
sesuatu yang membuat kesenangan dan kebahagiaan atau kepuasan hawa nafsu hidup
manusia di dunia ini. Kemudian plato mengemukakan tentang ajaran-ajarannya
yaitu tentang dua dunia. Oleh karena itu kesenagan dan kebahagiaan tersebut
haruslah dilihat terlebih dahulu dalam hubungan kedua dunia tersebut.[8]
Ajaran plato tentang etika plato
mengatakan atau mengemukakan bahwa manusia hidup didunia memiliki tujuan yang
baik. Dan plato juga menyetujui pendapat tentang yunani kuno yaitu kita hidup
didunia sebagai manusia yang berperan dalam bermasyarakat terhadap sesama, plato
juga menolak bahwa negara hanya berdasarkan adat istiadat atau kebiasaan
setempat. Plato sangat yakin dengan pendapatnya bahwa manusia itu merupakan
makhluk sosial. Makhluk sosial yang dimana manusia yang terbentuk atas dasar
kepentingan yang bersifat ekonomis, atau saling membutuhkan anatarsesama warga,
maka dengan begitu terjadilah suatu bidang pekerjaan maupunsaling tolong
menolong atarsesama jika ada suatu masalah atau kendala yang tidak bisa diatasi
sendiri atau satu orang saja. Karena tidak semua orang dapat mengatasi
masalahnya sendiri dalam satu waktu. Tidak hanya itu plato juga mengemukakan
bahwa fungsi dari polisi ialah untuk mengatasi berbagai problem atau jika adanya pertambahan penduduk
sehingga akhirnya kebutuhanpun bertambah dan akhirnya sangat memungkinkan
terjadinya peperangan. Oleh sebab itu disetiap negara harus memiliki polisi
yang dapat mengatasi berbagai masalah dan dapat menjaga maupun yang dapat
melindungi negara. Ada tiga golongan negara yang baik yaitu sebagai berikut:
1. Golongan penjaga yang merupakan para filsuf yang sudah
mengetahui mana yang baik dan mana pemimpin yang dapat dipercaya pada mereka.
2. Golongan pembantu atau prajurit.
3. Golongan pekerja maupun petani yang membantu yang
menanggung kehidupan ekonomi.
Plato tidak terlalu mementingkan adanya UUD yang bersifat umum. Karena menurut plato keadaan suatu hal itu dapat terus berubah-ubah dan semua peraturan-pertauran sulit disama ratakan karena sifat semua orang itu berbeda-beda dan semua itu tergantung situasi dan kondisi yang ada simasyarakat tersebut. Negara menurut plato adalah negara yang berbentuk demokrasi dan monarkhi sehingga terjadi banyaknya kelainan. Begitupun sebaliknya jika terlalu demokrasi maka akan terjadi kebebasan, hal ini harus diwaspadai karena apabila suatu negara terlalu bebas untuk melakukan sesuatu maka dapat menimbulkan dampak negatif bagi suatu negara hal ini dapat disimpulkan bahwa perlu diadakan penggabungan, dan negara ini berdasarkan pertanian bukan perdagangan. Hal ini terjadi bertujuan untuk menghindari nasib yang sama seperti apa yang terjadi di Athena yang pernah mengalami kerusakan suatu negara.[9]
C. Pemikiran plato tentang etika
Dikatakan bahwa sebagian besar plato
mebahas tentang pemikiran-pemikiran plato dari pada sejarah plato. Plato telah
mengemukakan ajaran-ajaran pemikirannya tentang ide dan jiwa, dan plato juga
mengemukakan tentang ajaran pemikirannya tentang ketata negaraan yaitu dimana
plato menjelaskan bagaimana sebuah negara yang ideal atau negara yang baik yang
dikutip didalam buku polotes dan nomoi
yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara memperbaiki negara yang
rusak dan buruk. Menurut plato untuk membuat negara yang baik itu harus
disertai dengan beberapa golongan yang
menjadi bagian terpenting dari sebuah negara. Adapun golongan yang termasuk
bagian penting dari sebuah negara adalah sebagai berikut:
1. Golongan
yang tertinggi. Orang yang
termasuk golongan yang tertinggi ialah orang-orang yang memerintah atau seorang
folosof.
2. Golongan menengah. Orang yang termasuk golongan
menengah ialah para prajurot, yang bertugas menjaga keamanan suatu negara yang
ditempatinya dan ketaatan peraturan terhadap warganya.
3. Golongan terendah atau bisa disebut dengan golongan
rakyat biasa. Orang yang termasuk golongan terendah ini ialah para petani,
pedangang dan tukang bangunan yang memiliki tugas untuk memikul ekonomi negara.
Plato menyimpulkan bahwa negara itu terdiri atas tiga
bagian yaitu kepala, dada dan perut. Sedangkan negara memiliki tiga bagian
yaitu pemimpin, pembantu dan pekerja. Manusia yang hidup sehat harus berperan untuk mempertahankan
keseimbangan dan kesederhanaan pada negara yang baik. Untuk menciptakan negara
yang baik, perlu adanya kesadaran setiap warga negara yang menduduki negaranya
masing-masing dan negara harus memiliki pemerintahan yang sesuai untuk
memperbaiki keadaan negara tersebut.[10]
SESI TANYA JAWAB
1. Nama :Azzah
Ulia Rona
Kelompok :8
Pertanyaan :jelaskan kondisi kejadian pada masa buruk
menurut plato?
Jawaban :menurut plato kondisi kejadian pada
masa buruk yaitu dimana sebuah negara yang mengalami keadaan yang buruk.
Contohnya di athena, pada saat itu diathena mengalami sistem yang buruk.
Sehingga plato membuat konsep agar bisa memperbaiki negara yang buruk itu.
Konsep tersebut yaitu konsep negara yang terkait etika dan teorinya tentang
negara yang baik. Menurut plato konsep negara yang terkait etika menjelaskan
bahwa tujuan hidup manusia melainkan untuk hidup yang baik. Sedangkan teori
negara yang baik menjelaskan bahwa untuk mendapat negara yang baik kita harus
didalam negara yang terlebih dahulu. (dijawab oleh susilawati)
2. Nama :Annisa Seftiyani
Kelompok :12
Pertanyaan :Jelaskan
mengapa plato tidak menganggap penting hukum UUD?
Jawaban :Karena
menurut plato keadaan suatu hal itu berubah-ubah dan semua peraturan-peraturan
itu sulit disama ratakan karena sifat semua orang itu berbeda-beda dan semua
itu tergantung di situasi dan kondisi dimasyarakat setempat tersebut, mengingat
negara menurut plato adalah negara yang berbentuk demokrasi dan monarki
sehingga terjadi kelainan atau perbedaan maka oleh sebab itu UUD tidak dianggap
penting oleh Plato (dijawab oleh Iskandar).
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Plato adalah tokoh filsafat yang paling terkenal dalam
abad yunani kuno dan diantara lainnya. Dia memerintah pada 427-347 SM. Dia
seorang tokoh yang sanagt bijaksana dan pandai dalam mengatur pemerintahannya.
Semua konsep-konsep kepemimpinannya dituangkan dalam sebuah karyanya yang terkenal Republic. Dia juga merupakan
keturunan bangsawan Athena.
Dalam kepemimpinanya lebih dikenal dengan metode
dialektika yang menuangkan dialo-dialog, teori, dan ide-ide yang mengidealkan
negara pesemakmuran. Pandangan Plato yang bersendi pada ajaran tentang ide-ide
diaplikasikan melalui teori pengetahuan dualisme dunia yang dipraktikkan dalam kehidupan.
Ajaran-ajaran
Plato dibagi sebagai berikut:
1.Ajaran
Tentang Ide-Ide
2.Ajaran
Tentang Jiwa
3Ajaran
Tentang Etika
4.Ajaran
Tentang Negara
B.Saran
Setelah kita mempelajari tentang Idealisme Plato,
hendaknya kita dapat lebih memahami dan membandingkan perkembangan
pemikiran-pemikiran dari para pakar sebagai sarana pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Iain psp, 2019.
Idealisme Plato
Aisyah Safitri,
2019. Filsafat Ilmu Idealisme Plato
Dr. JH. Rapar, Th.D, PH.D. 1991. Filsafat
politik Plato. Jakarta: CV. Rajawali.
Russel Bestrand. 2002. Sejarah
filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka pelajar
Sutrisno, Mudji, dan Herdiman, F.
Budi. 1992. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. Yogyakarta: Kansius
K. bertens “sejarah filsfat yunani”,
Yogyakarta: KANSIUS, 1999
Hendrik jan papar. Pengantar
Filsafat, Yogyakarta: KANSISUS, 1996
Gearder Joestin. Dunia shopie,
Bandung: PT Mizan purtaka, 2012
Lavine. Petualangan filsafat dari
socrates ke Sartre. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002
Achmadi Asmoro. Filsafat Umum.
Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003
Hadiwijono Harun “ sari sejarah filsafat barat “ Yogyakarta, KANSIUS, 1980https://armawanpena.wordpress.com/kumpulanmakalah/kajianfilsafat/kaum-shopis/
[1] Tjahjadi, simon Petrus L., Petualangan Intelektual Yogyakarta:
Kanisius.20004.ISBN 979-21-0460-7.
[2] Darmodiharjo, Filsafat Hukum Indonesis, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1999), hal: 72
[3] Ibid, hal: 78
[4] Joestain Gaarder, Dunia Shopie, Bandung: Mizan,1996, hal.
108
[5] Hardono Hadi, Jati diri manusia berdasar Filsafat Polotik Kajian
Historis dari Zaman Yunani Kuno Sampai Zaman Modern, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, cet. I, 2002, hal.57
[6] Opcit, h. 297
[7]K. Bertnes “sejarah filsafat Yunani”, (Yogyakarta KANSISUS,
1999). Hal. 130
[8]Dr. Jh. Rapar, Th.D, PH.D, Filsafat politik Plato. (Jakarta:
CV.Rajawali. 1991) hal. 53
[9]K.Bertens op. cit Hal. 132
[10] Harun
Hardiwijono “sari sejarah filsafat barat” (Yogyakarta, KANSISUS,
1980), Hal. 42
Komentar
Posting Komentar