POKOK-POKOK AJARAN ISLAM: IMAN, ISLAM DAN IHSAN, ILMU DAN AMAL (STUDI KEISLAMAN "III")
Susilawati (210101090)
Lija Kholilaty (210101043)
Lisda Mulina (210101045)
Dosen Pengampu: Dr. Zainuddin, M.Pd.I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pokok-pokok ajaran islam adalah agama yang
baik, agama yang diberkahi oleh Allah swt. Islam juga agama yang memberikan
tuntunan kepada umatnya baik berupa sikap yang ditunjukkan kepada manusia
melalui kehidupannya. Manusia sebagai pemimpin dimuka bumi ini yang tentunya
harus dibekali dengan akhlak yang baik untuk dirinya sendiri, orang lain,
masyarakat, serta orang-orang yang ada disekitarnya. Islam memberikan cara
bagaimana seorang muslim dapat berkomunikasi dalam kehidupan pribadi maupun
sosialnya.
Ajaran islam akan selalu berkaitan dengan
kehidupan aktivitas sehari-hari karena manusia diciptakan didunia ini mempunyai
kelebihan dan kekurangannya masing-masing, manusia memiliki akal pikiran dan
budi pekerti agar manusia berperilaku dengan baik. Inilah pokok-pokok ajaran
islam yang akan dibahas pada makalah ini meliputi iman, islam dan ihsan, ilmu
dan amal.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
definisi Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal ?
2. Bagaiman
contoh Pengamalan Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal ?
C. Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui definisi Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal.
2. Untuk
mengetahui Pengamalan Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal
a. Definisi
Iman
Kata Iman berasal dari bahasa arab. Yaitu
bentuk masdar dari kata kerja (fi’il) amana, yu’minu, iimaanan. Artinya
percaya, tunduk, tentram atau tenang. Imam Al-Ghazali memknakannya dengan kata
Tashdiq artinya pembenaran. Pengertian iman adalah membenarkan dengan hati,
diikrarkan dengan lisan dan dilakukan dengan perbuatan. Iman secara bahasa
berasal dari kata amana, yu’minu, iimaanan artinya meyakini atau mempercayai.
Pembahasan pokok Akidah Islam berkisar pada akidah yang terumuskan dalam rukun
iman yaitu:
1) Iman
kepada Allah
2) Iman
kepada Malaikat
3) Iman
kepada Kita-kitabnya
4) Iman
kepada Nabi dan Rasul
5) Iman
kepada Hari Kiamat
6) Iman
kepada Qada dan Qadar[1]
Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai
mukmin atau orang yang beriman sempurna, apabila memenuhi ketiga unsur keimanan
diatas, yaitu apabila seseorang mengakui dalam hatinya bahwa Allah itu ada,
kemudian diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan ketiga
unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Allah
memerintahkan agar umat manusia beriman kepadanya, sebagaimana firman Allah di
dalam QS An-Nisa: 136
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ
عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ
وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا
بَعِيدًا
Artinya: “wahai
orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
(Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta
kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah,
Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang
itu telah tersesat.” (QS. An-Nisa: 136)
b. Definisi
Islam
Kata Islam berasal dari bahasa arab adalah
bentuk masdar dari kata kerja Islam, yuslimu, islaamaa. Artinya sejahtera,
tidak cacat, selamat. Sedangkan menurut istilah islam adalah sikap penyerahan
diri (kepasrahan, ketundukan, kepatuhan) seprang hamba kepada tuhannya dengan
senantiasa melaksanakan perintahnya, dan menjauhi larangannya, demi mencapai
kedamaian dan keselamatn hidup di dunia maupun di akhirat. Islam sebagai agama,
maka tidak dapat terlepas dari adanya unsur-unsur pembentukannya yaitu berupa rukun
islam, adalah sebagai berikut:
1) Membaca
dua kalimat syahadat
2) Mendirikan
shalat lima waktu
3) Menunaikan
zakat
4) Puasa
ramadhan
5) Haji
ke Baitullah jika mampu[2]
Allah
swt berfirman dalam QS. Ali-Imran: 19 dan QS. Ali-Imran: 85
إِنَّ
الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
إِلَّا مِن
بَعْدِ
مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ
اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Artinya: “sesungguhnya
agama disisi Allah ialah islam. tidaklah berselisih orang-orang yang telah
diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di
antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah
sangat cepat perhitungannya.” (QS. Ali-Imran: 19)
وَمَن
يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ
مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya:
“Dan
barang siapa mencari agama selain islam, dia tidak akan diterima, dan diakhirat
dia termasuk orang yang rugi.” (QS.
Ali-Imran: 85)[3]
c. Definisi
Ihsan
Kata Ihsan berasal dari bahasa arab dari
kata kerja (fi’il) yaitu ahsana, yuhsinu, ahsaanaa. Artinya perbuatan baik.
Para ulama menggolongkan ihsan menjadi empat bagian yaitu:
1) Ihsan
kepada Allah
2) Ihsan
kepada diri sendiri
3) Ihsan
kepada sesama manusia
4) Ihsan
bagi sesama makhluk
Disimpulkan bahwasannya ihsan memiliki
satu rukun. Engkau beribadah kepada Allah swt seakan-akan engkau melihatnya,
jika engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya ia melihatmu. Hal ini
berdasarkan HR Umar bin Khatab Ra, dalam kisah jawaban Nabi saw kepada jibril
ketika ia bertanya tentang ihsan, maka Nabi saw menjawab
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ
لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Artinya: “Engkau
beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, maka bila engkau tidak
melihatnya, sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR. Umar bin Khatab ra)
Maksudnya adalah Nabi saw menjelaskan
ihsan dengan memperbaiki lahir dan batin. Serta menghadirkan kedekatan Allah
swt. Yaitu seolah-olah Allah berada dihadapannya, dan ia melihatnya. Dan hal
itu akan mengandung konsekuensi rasa takut dan cemas terhadap pengangungan
tehadap Allah swt.[4]
d. Definisi
Ilmu
Kata ilmu berasal dari bahasa arab ilmun
yang artinya pengetahuan, kepandaian tentang sesuatu. Lawan kata ilmu ialah
jahl yang berarti kebodohan, ketidaktahuan. Seseorang dikatakan berilmu apabila
memiliki kemampuan tentang seuatu, misalnya menggambar. Apabila kemampuan
menggambarnya sangat baik, maka orang tersebut dikatakan pandai menggambar.
Begitupun sebaliknya, apabila seseorang tidak mengetahui tentang sesuatu, bisa
dikatakan orang yang tidak tahu. Apabila ketidak tahuannya sangat banyak dalam
berbagai hal, maka ia disebut orang yang bodoh.
Islam telah menetapkan bahwa setiap
muslimin dan muslimat harus mencari ilmu. Perintah mencari ilmu telah
ditegaskan Allah dalam wahyu yang diturunkan pertama kali yaitu di dalam QS.
Al-Falaq:1-5
قُلْ
أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ ١ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ٢ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
٣ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ ٤ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ٥
Artinya: “Bacalah
dengan menyebut nama (tuhanmu) yang mencipta. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmulah yang maha mulia. Yang mengajar
(manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS.
Al-Falaq: 1-5)
Dalam
hal ilmu manusia dapat dikelompokkan menjadi empat golongan yaitu sebagai
berikut:
1) Orang
yang tahu dan tahu bahwa dirinya tahu
2) Orang
yang tahu, tetapi tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu
3) Orang
yang tidak tahu, tetapi tahu bahwa dirinya tidak tahu
4) Orang
yang tidak tahu, tetapi tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu[5]
Golongan pertama adalah mereka yang pandai
berilmu dan dapat memanfaatkan ilmunya secara baik untuk kepentingan agama dan kemanusiaan.
Mereka itulah yang diibaratkan sebagai lampu penerang bagi umatnya atau
pengikutnya.
Golongan kedua adalah mereka yang
tergolong pandai berilmu namun tidak mampu memanfaatkan ilmunya secara baik.
Golongan ini ibaratnya seperti pohon yang tak berbuah. Golongan kedua ini
terkadang membahayakan orang lain, karena kemungkinan besar ilmu yang dimiliki
sering dipergunakan hanya untuk kepentingannya sendiri tanpa memikirkan orang
lain.
Golongan ketiga adalah mereka yang tidak
pandai atau tidak berilmu, tetapi menyadari kekurangan dirinya. Golongan ini
masih baik karena dapat diarahkan kepada yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Apabila bersalah, ia segera mengakui kesalahannya, akhirnya dapat diharapkan
mencapai kemajuan karena kesediaannya untuk diarahkan orang lain.
Golongan keempat adalah mereka yang tidak
pandai (bodoh), namun tidak menyadari kekurangannya. Orang yang demikian ini
susah diarahkan karena ia merasa benar. Maka nasihat dan pengarahan dari orang
lain tidak dihiraukannya, karena ia merasa sudah benar terhadap suatu perbuatan
yang dilakukannya. Dalam kehidupan sehari-hari, golongan keempat ini sering
mengikuti kehendaknya sendiri, dan kurang memerhatikan orang lain. Sehingga
tidak disukai dalam pergaulan.[6]
e. Definisi
Amal
Amal menurut bahasa arab berasal dari kata
amala artinya perbuatan atau tindakan. Menurut istilah amal adalah perwujudan
dari sesuatu yang menjadi harapan jiwa, baik ucapan, perbuatan anggota badan
ataupun perbuatan hati. Amal berdasarkan niat, tiada amal tanpa niat. Setiap
amal yang niatnya bukan karena Allah, maka tidak akan mendapatkan pahala.
Karena dasar setiap amalnya adalah niatnya, itulah yang menjadi sumber
pembangkit. Niat yang baik bisa dibenarkan agama bila dilaksanakan dengan cara
yang baik. Karena dalam islam, tidak boleh ada tujuan menghalalkan segala cara.
Maka janganlah tergesa-gesa berniat sebelum mengerti dengan pasti apa hukumnya
amal yang akan dikerjakannya itu.
B. Contoh
Pengamalan-Pengamalan Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal
a. Contoh
Pengamalan Iman
Seperti yang kita ketahui bahwa rukun iman itu ada
enam. Dari keenam rukun iman tersebut ada beberapa contoh pengamalannya yaitu
sebagai berikut:
1) Iman
kepada Allah. Pengamalannya yaitu menjalankan segala perintah dan menjauhi
larangannya, seperti umat muslim diwajibkan untuk beribadah pada Allah swt,
maka iapun menjalani ibadahnya tersebut. Selain itu didalam islam, seorang
muslim diharamkan untuk memakan daging babi, maka iapun menjauhi larangannya.
Larangan memakan babi terdapat didalam QS. Al-Baqarah:173
اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ
وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ
ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ
غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “sesungguhnya
dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi dan daging hewan yang
disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa
(memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
maka tidak ada dosa baginya. Sungguh Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”
(QS. Al-Baqarah: 173)
2) Iman
kepada malaikat. Pengamalannya yaitu ia meyakini bahwa ada malaikat atid yang
bertugas sebagai mencatat segala perbuatan amal buruk. Dengan begitu ia akan
waspada atas perilakunya karena jika ia melakukan perbuatan buruk. Maka
perbuatannya tersebut akan dicatat.
3) Iman
kepada kitab-kitabnya. Pengamalannya yaitu seorang muslim akan mengamlkan
Al-Qur’an sebagai sumber hukum dalam kehidupan sehari-hari
4) Iman
kepad Nabi dan Rasul. Pengamalannya yaitu taat beribadah sesuai dengan yang
diajarkan oleh nabi dan rasul[7]
5) Iman
kepada hari kiamat. Pengamalannya yaitu ia meyakini bahwa hari akhir itu
benar-benar ada sesuai yang terdapat di dalam Al-Qur’an sehingga iapun berbuat
kebaikan untuk mempersiapkan hari kiamat kelak, karena perbuatan buruk akan
mendapat balasan yang setimpal.
6) Iman
kepada qada dan qadar. Pengamalannya yaitu ia tidak mudah mengeluh dan berputus
asa, karena ia meyakini bahwa setiap kegagalan yang dialaminya sebenarnya
ketentuan Allah swt. Dan ia menyadari bahwa dibalik kegagalan selalu ada
hikmah.[8]
b. Contoh
Pengamalan Islam
1) Senantiasa
melaksanakan ibadah kepada Allah swt dengan penuh keikhlasan dan rasa butuh
yang sangat dalam, sehingga tidak merasa terpaksa dan terbebani.
2) Selalu
berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memurnikan niat beribadah hanya kepada
Allah swt.
3) Selalu
menghindarkan diri dari kemusyrikan, yaitu dengan tidak mempercayai adanya
tuhan yang lain, selain Allah swt.
4) Selalu
meningkatkan ketaatan kepada Allah swt, dengan menjalankan perintahnya, dan
menjauhi larangannya.
5) Selalu
berbakti kepada kedua orang tua serta berbuat baik kepada manusia.[9]
c. Contoh
Pengamalan Ihsan
Salah satu contoh pengamalan ihsan yaitu ihsan pada
orang yang berbuat buruk. Dan ternyata seorang muslim dianjurkan untuk berbuat
baik kepada orang yang berbuat buruk. Sebagaimana tertuang di dalam QS.
Fussilat : 34
وَلَا
تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا
ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
Artinya: “Dan
tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara
yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia
akan seperti teman yang setia.” (QS. Fussilat : 34)
Contoh
berbuat baik kepada orang berbuat buruk diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Memaafkan
orang yang berbuat keburukan
2) Meninggalkan
pertengkaran
3) Melupakan
kesalahan orang lain
4) Melupakan
rasa sakit hati yang telah diperbuat oleh orang yang berbuat buruk tersebut
5) Bermurah
hati kepada orang yang menyakiti
6) Menahan
amarah terhadap orang yang berbuat buruk tersebut
7) Berbuat
kebalikan dari yang dilakukan oleh orang yang berbuat buruk. Yaitu dengan cara
membalasnya dengan kebaikan.[10]
d. Contoh
Pengamalan Ilmu
1) Pemikirannya
berdasarkan akal sehat. Yaitu perilakunya selalu berdasarkan pada akal sehat.
Ia akan mendahulukan akal budinya dari pada emosi dan hawa nafsunya. Akal
sehatlah yang dapat membedakan kebenaran dan kesalahan maupun keburukan.
2) Pemikirannya
berdasarkan ilmu pengetahuan. Yaitu ilmu pengetahuan merupakan modal utama
dalam meraih kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Perilaku yang
berdasarkan ilmu pengetahua sungguh, tidak akan mendapatkan kerugian. Sebab
ilmu akan membimbing dan mengarahkan pemiliknya pada jalan yang menuju
kebenaran dan kebaikan.
3) Ia
tidak menyimpang dari aturan hukum dan tradisi
Dengan ilmu dan akal
sehatnya orang yang berilmu akan selalu bersikap hati-hati, agar tidak
melanggar peraturan hukum dan tradisi yang berlaku. Orang yang memiliki ilmu
dan pengetahuan tentu tidak mau melanggar peraturan-peraturan tersebut, baik
peraturan yang dibuat oleh sesama manusia maupun peraturan yang dibuat oleh
Allah swt.
e. Contoh
Pengamalan amal
Amal merupakan suatu perbuatan yang diniatkan karena
Allah. Seperti kita ketahui sekarang segala perbuatan yang diniatkan hanya
untuk Allah swt itu disebut dengan amal saleh. Demikian ada beberapa macam yang
termasuk perbuatan amal saleh yang dapat dilakukan oleh seorang muslim.
Contohnya berupa pengabdian kepada Allah swt diantaranya adalah sebagai
berikut:
1) Tidak
meninggalkan shalat lima waktu, akan semakin bertambah pahalanya jika
dilengkapi dengan shalat sunnah
2) Menunaikan
ibadah puasa ramadhan atau puasa sunnah yang lain, misalnya puasa senin kamis,
atau puasa arafah
3) Berperilaku
husnudzon yaitu berprasangka baik kepada setiap ujian hidup dari Allah swt yang
sedang diterima
4) Menunaikan
ibadah haji bagi yang mampu.[11]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pemaparan materi diatas dapat disimpulkan bahwa
iman adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan dan dilakukan
dengan perbuatan. Islam adalah sikap penyerahan diri ( kepatuhan) seorang hamba
kepada tuhannya dengan senantiasa melaksanakan perintahnya, dan menjauhi
larangannya. Ihsan adalah perbuatan baik. Dan ilmu adalah
pengetahuan/kepandaian tentang sesuatu. Amal adalah perwujudan dari sesuatu yang
menjadi harapan jiwa, baik ucapan, perbuatan anggota badan ataupun perbuatan
hati.
Contoh pengamalan iman. Salah satunya
yaitu iman kepada Allah seperti menjalankan perintahnya dan menjauhi
larangannya. Pengamalan Islam yaitu Senantiasa melaksanakan ibadah kepada Allah
swt dengan penuh keikhlasan dan rasa butuh yang sangat dalam, sehingga tidak
merasa terpaksa dan terbebani. pengamalan ihsan yaitu ihsan pada orang yang
berbuat buruk. Pengamalan Ilmu yaitu Ia tidak menyimpang dari aturan hukum dan
tradisi. Pengamalan amal yaitu segala perbuatan yang diniatkan hanya untuk
Allah swt atau biasa disebut dengan amal saleh.
B. Saran
Dengan disusunnya makalah Pokok-pokok Ajaran Islam:
Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal ini, kami berharap pembaca dapat
mengetahui kajian Studi Keislaman lebih jauh lagi, mengenai pembahasan
Pokok-pokok Ajaran Islam: Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal dari berbagai
sumber yang lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
At-Tamimiy Muhammad. 2017. Kitab Tauhid
(Terjemahan: H Firdaus). Jakarta. Darul Haq.
Abduh Muhammad. 1992. Risalah Tauhid
(Terjemahan: H Firdaus). Jakarta. Rajawali Press.
Harsono Ibrahim. 2009. Membangun AKIDAH
dan AKHLAK. Solo. PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Adniin Muhyi. 1978. Matan Arba’in An-Nawawiyah.
Bairut. Muassanah Ar-Risalh
Muahimin. 2008. Paradigma Pendidikan
Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung. PT
Remaja Rosdakarya.
Al-Jurjaaniy. 1983. At-Ta’rlifst.
Lebanon. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah Bairrut.
Pudjiani Tatik, Bagus Mustakim. 2019.
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Bogor. PT Pustaka Setia.
[1]Muhammad At-Tamimiy, Kitab
Tauhid (Terjemahan : H Firdaus), (Jakarta: Darul Haq, 2017) h. 9
[2]Muhammad Abduh, Risalah Tauhid
(Terjemahan : H. Firdaus), (Jakarta : Rajawali Press, 1992) h. 84
[3]Muhammad Abduh, Risalah Tauhid
(Terjemahan : H. Firdaus), (Jakarta : Rajawali Press, 1992) h. 84
[4]Muhammad At-Tamimiy, Kitab
Tauhid (Terjemahan : H Firdaus), (Jakarta: Darul Haq, 2017) h. 9
[5]Ibrahim Harsono, Membangun
AKIDAH dan AKHLAK, (Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2009) h. 24-25
[6]Ibrahim Harsono, Membangun
AKIDAH dan AKHLAK, (Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2009) h. 25-26
[7]Muhyi Ad-Diin, Matan Arba’in
An-Nawawiyah, (Bairut: Muassanah Ar-Risalha, 1978) h. 47
[8]
Muhyi Ad-Diin, Matan
Arba’in An-Nawawiyah, (Bairut: Muassanah Ar-Risalha, 1978) h. 47
[9]
Muahimin. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya mengefektifkan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008) h. 33-34
[10]Al Jurjaaniy, At-Ta’rlifat,
(Lebanon: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah Bairrut, 1983) h. 87
[11]Tatik
Pudjiani, Bagus Mustakim. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
(Bogor: PT Pustaka Setia, 2019) h. 237
Komentar
Posting Komentar