POKOK-POKOK AJARAN ISLAM: IMAN, ISLAM DAN IHSAN, ILMU DAN AMAL (STUDI KEISLAMAN "III")

Susilawati (210101090)

Lija Kholilaty (210101043)

Lisda Mulina (210101045)

Dosen Pengampu: Dr. Zainuddin, M.Pd.I

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pokok-pokok ajaran islam adalah agama yang baik, agama yang diberkahi oleh Allah swt. Islam juga agama yang memberikan tuntunan kepada umatnya baik berupa sikap yang ditunjukkan kepada manusia melalui kehidupannya. Manusia sebagai pemimpin dimuka bumi ini yang tentunya harus dibekali dengan akhlak yang baik untuk dirinya sendiri, orang lain, masyarakat, serta orang-orang yang ada disekitarnya. Islam memberikan cara bagaimana seorang muslim dapat berkomunikasi dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.

Ajaran islam akan selalu berkaitan dengan kehidupan aktivitas sehari-hari karena manusia diciptakan didunia ini mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, manusia memiliki akal pikiran dan budi pekerti agar manusia berperilaku dengan baik. Inilah pokok-pokok ajaran islam yang akan dibahas pada makalah ini meliputi iman, islam dan ihsan, ilmu dan amal.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana definisi Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal ?

2.      Bagaiman contoh Pengamalan Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal ?

 

C.     Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui definisi Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal.

2.      Untuk mengetahui Pengamalan Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Definisi Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal

a.       Definisi Iman

Kata Iman berasal dari bahasa arab. Yaitu bentuk masdar dari kata kerja (fi’il) amana, yu’minu, iimaanan. Artinya percaya, tunduk, tentram atau tenang. Imam Al-Ghazali memknakannya dengan kata Tashdiq artinya pembenaran. Pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan dan dilakukan dengan perbuatan. Iman secara bahasa berasal dari kata amana, yu’minu, iimaanan artinya meyakini atau mempercayai. Pembahasan pokok Akidah Islam berkisar pada akidah yang terumuskan dalam rukun iman yaitu:

1)      Iman kepada Allah

2)      Iman kepada Malaikat

3)      Iman kepada Kita-kitabnya

4)      Iman kepada Nabi dan Rasul

5)      Iman kepada Hari Kiamat

6)      Iman kepada Qada dan Qadar[1]

Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin atau orang yang beriman sempurna, apabila memenuhi ketiga unsur keimanan diatas, yaitu apabila seseorang mengakui dalam hatinya bahwa Allah itu ada, kemudian diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.

Allah memerintahkan agar umat manusia beriman kepadanya, sebagaimana firman Allah di dalam QS An-Nisa: 136

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

Artinya: “wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat.” (QS. An-Nisa: 136)

b.      Definisi Islam

Kata Islam berasal dari bahasa arab adalah bentuk masdar dari kata kerja Islam, yuslimu, islaamaa. Artinya sejahtera, tidak cacat, selamat. Sedangkan menurut istilah islam adalah sikap penyerahan diri (kepasrahan, ketundukan, kepatuhan) seprang hamba kepada tuhannya dengan senantiasa melaksanakan perintahnya, dan menjauhi larangannya, demi mencapai kedamaian dan keselamatn hidup di dunia maupun di akhirat. Islam sebagai agama, maka tidak dapat terlepas dari adanya unsur-unsur pembentukannya yaitu berupa rukun islam, adalah sebagai berikut:

1)      Membaca dua kalimat syahadat

2)      Mendirikan shalat lima waktu

3)      Menunaikan zakat

4)      Puasa ramadhan

5)      Haji ke Baitullah jika mampu[2]

 

 

Allah swt berfirman dalam QS. Ali-Imran: 19 dan QS. Ali-Imran: 85

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya: “sesungguhnya agama disisi Allah ialah islam. tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah sangat cepat perhitungannya.” (QS. Ali-Imran: 19)

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya: “Dan barang siapa mencari agama selain islam, dia tidak akan diterima, dan diakhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali-Imran: 85)[3]

c.       Definisi Ihsan

Kata Ihsan berasal dari bahasa arab dari kata kerja (fi’il) yaitu ahsana, yuhsinu, ahsaanaa. Artinya perbuatan baik. Para ulama menggolongkan ihsan menjadi empat bagian yaitu:

1)      Ihsan kepada Allah

2)      Ihsan kepada diri sendiri

3)      Ihsan kepada sesama manusia

4)      Ihsan bagi sesama makhluk

Disimpulkan bahwasannya ihsan memiliki satu rukun. Engkau beribadah kepada Allah swt seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya ia melihatmu. Hal ini berdasarkan HR Umar bin Khatab Ra, dalam kisah jawaban Nabi saw kepada jibril ketika ia bertanya tentang ihsan, maka Nabi saw menjawab

 

 

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, maka bila engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR. Umar bin Khatab ra)

Maksudnya adalah Nabi saw menjelaskan ihsan dengan memperbaiki lahir dan batin. Serta menghadirkan kedekatan Allah swt. Yaitu seolah-olah Allah berada dihadapannya, dan ia melihatnya. Dan hal itu akan mengandung konsekuensi rasa takut dan cemas terhadap pengangungan tehadap Allah swt.[4]

d.      Definisi Ilmu

Kata ilmu berasal dari bahasa arab ilmun yang artinya pengetahuan, kepandaian tentang sesuatu. Lawan kata ilmu ialah jahl yang berarti kebodohan, ketidaktahuan. Seseorang dikatakan berilmu apabila memiliki kemampuan tentang seuatu, misalnya menggambar. Apabila kemampuan menggambarnya sangat baik, maka orang tersebut dikatakan pandai menggambar. Begitupun sebaliknya, apabila seseorang tidak mengetahui tentang sesuatu, bisa dikatakan orang yang tidak tahu. Apabila ketidak tahuannya sangat banyak dalam berbagai hal, maka ia disebut orang yang bodoh.

Islam telah menetapkan bahwa setiap muslimin dan muslimat harus mencari ilmu. Perintah mencari ilmu telah ditegaskan Allah dalam wahyu yang diturunkan pertama kali yaitu di dalam QS. Al-Falaq:1-5

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ ١ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ٢ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ٣ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ ٤ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ٥

Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama (tuhanmu) yang mencipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmulah yang maha mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Falaq: 1-5)

Dalam hal ilmu manusia dapat dikelompokkan menjadi empat golongan yaitu sebagai berikut:

1)      Orang yang tahu dan tahu bahwa dirinya tahu

2)      Orang yang tahu, tetapi tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu

3)      Orang yang tidak tahu, tetapi tahu bahwa dirinya tidak tahu

4)      Orang yang tidak tahu, tetapi tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu[5]

Golongan pertama adalah mereka yang pandai berilmu dan dapat memanfaatkan ilmunya secara baik untuk kepentingan agama dan kemanusiaan. Mereka itulah yang diibaratkan sebagai lampu penerang bagi umatnya atau pengikutnya.

Golongan kedua adalah mereka yang tergolong pandai berilmu namun tidak mampu memanfaatkan ilmunya secara baik. Golongan ini ibaratnya seperti pohon yang tak berbuah. Golongan kedua ini terkadang membahayakan orang lain, karena kemungkinan besar ilmu yang dimiliki sering dipergunakan hanya untuk kepentingannya sendiri tanpa memikirkan orang lain.

Golongan ketiga adalah mereka yang tidak pandai atau tidak berilmu, tetapi menyadari kekurangan dirinya. Golongan ini masih baik karena dapat diarahkan kepada yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Apabila bersalah, ia segera mengakui kesalahannya, akhirnya dapat diharapkan mencapai kemajuan karena kesediaannya untuk diarahkan orang lain.

Golongan keempat adalah mereka yang tidak pandai (bodoh), namun tidak menyadari kekurangannya. Orang yang demikian ini susah diarahkan karena ia merasa benar. Maka nasihat dan pengarahan dari orang lain tidak dihiraukannya, karena ia merasa sudah benar terhadap suatu perbuatan yang dilakukannya. Dalam kehidupan sehari-hari, golongan keempat ini sering mengikuti kehendaknya sendiri, dan kurang memerhatikan orang lain. Sehingga tidak disukai dalam pergaulan.[6]

e.       Definisi Amal

Amal menurut bahasa arab berasal dari kata amala artinya perbuatan atau tindakan. Menurut istilah amal adalah perwujudan dari sesuatu yang menjadi harapan jiwa, baik ucapan, perbuatan anggota badan ataupun perbuatan hati. Amal berdasarkan niat, tiada amal tanpa niat. Setiap amal yang niatnya bukan karena Allah, maka tidak akan mendapatkan pahala. Karena dasar setiap amalnya adalah niatnya, itulah yang menjadi sumber pembangkit. Niat yang baik bisa dibenarkan agama bila dilaksanakan dengan cara yang baik. Karena dalam islam, tidak boleh ada tujuan menghalalkan segala cara. Maka janganlah tergesa-gesa berniat sebelum mengerti dengan pasti apa hukumnya amal yang akan dikerjakannya itu.

 

 

 

B.     Contoh Pengamalan-Pengamalan Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal

a.       Contoh Pengamalan Iman

Seperti yang kita ketahui bahwa rukun iman itu ada enam. Dari keenam rukun iman tersebut ada beberapa contoh pengamalannya yaitu sebagai berikut:

1)      Iman kepada Allah. Pengamalannya yaitu menjalankan segala perintah dan menjauhi larangannya, seperti umat muslim diwajibkan untuk beribadah pada Allah swt, maka iapun menjalani ibadahnya tersebut. Selain itu didalam islam, seorang muslim diharamkan untuk memakan daging babi, maka iapun menjauhi larangannya. Larangan memakan babi terdapat didalam QS. Al-Baqarah:173

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “sesungguhnya dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi dan daging hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 173)

2)      Iman kepada malaikat. Pengamalannya yaitu ia meyakini bahwa ada malaikat atid yang bertugas sebagai mencatat segala perbuatan amal buruk. Dengan begitu ia akan waspada atas perilakunya karena jika ia melakukan perbuatan buruk. Maka perbuatannya tersebut akan dicatat.

3)      Iman kepada kitab-kitabnya. Pengamalannya yaitu seorang muslim akan mengamlkan Al-Qur’an sebagai sumber hukum dalam kehidupan sehari-hari

4)      Iman kepad Nabi dan Rasul. Pengamalannya yaitu taat beribadah sesuai dengan yang diajarkan oleh nabi dan rasul[7]

 

5)      Iman kepada hari kiamat. Pengamalannya yaitu ia meyakini bahwa hari akhir itu benar-benar ada sesuai yang terdapat di dalam Al-Qur’an sehingga iapun berbuat kebaikan untuk mempersiapkan hari kiamat kelak, karena perbuatan buruk akan mendapat balasan yang setimpal.

6)      Iman kepada qada dan qadar. Pengamalannya yaitu ia tidak mudah mengeluh dan berputus asa, karena ia meyakini bahwa setiap kegagalan yang dialaminya sebenarnya ketentuan Allah swt. Dan ia menyadari bahwa dibalik kegagalan selalu ada hikmah.[8]

b.      Contoh Pengamalan Islam

1)      Senantiasa melaksanakan ibadah kepada Allah swt dengan penuh keikhlasan dan rasa butuh yang sangat dalam, sehingga tidak merasa terpaksa dan terbebani.

2)      Selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memurnikan niat beribadah hanya kepada Allah swt.

3)      Selalu menghindarkan diri dari kemusyrikan, yaitu dengan tidak mempercayai adanya tuhan yang lain, selain Allah swt.

4)      Selalu meningkatkan ketaatan kepada Allah swt, dengan menjalankan perintahnya, dan menjauhi larangannya.

5)      Selalu berbakti kepada kedua orang tua serta berbuat baik kepada manusia.[9]

c.       Contoh Pengamalan Ihsan

Salah satu contoh pengamalan ihsan yaitu ihsan pada orang yang berbuat buruk. Dan ternyata seorang muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk. Sebagaimana tertuang di dalam QS. Fussilat : 34

وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

Artinya: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fussilat : 34)

 

Contoh berbuat baik kepada orang berbuat buruk diantaranya adalah sebagai berikut:

1)      Memaafkan orang yang berbuat keburukan

2)      Meninggalkan pertengkaran

3)      Melupakan kesalahan orang lain

4)      Melupakan rasa sakit hati yang telah diperbuat oleh orang yang berbuat buruk tersebut

5)      Bermurah hati kepada orang yang menyakiti

6)      Menahan amarah terhadap orang yang berbuat buruk tersebut

7)      Berbuat kebalikan dari yang dilakukan oleh orang yang berbuat buruk. Yaitu dengan cara membalasnya dengan kebaikan.[10]

d.      Contoh Pengamalan Ilmu

1)      Pemikirannya berdasarkan akal sehat. Yaitu perilakunya selalu berdasarkan pada akal sehat. Ia akan mendahulukan akal budinya dari pada emosi dan hawa nafsunya. Akal sehatlah yang dapat membedakan kebenaran dan kesalahan maupun keburukan.

2)      Pemikirannya berdasarkan ilmu pengetahuan. Yaitu ilmu pengetahuan merupakan modal utama dalam meraih kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Perilaku yang berdasarkan ilmu pengetahua sungguh, tidak akan mendapatkan kerugian. Sebab ilmu akan membimbing dan mengarahkan pemiliknya pada jalan yang menuju kebenaran dan kebaikan.

3)      Ia tidak menyimpang dari aturan hukum dan tradisi

Dengan ilmu dan akal sehatnya orang yang berilmu akan selalu bersikap hati-hati, agar tidak melanggar peraturan hukum dan tradisi yang berlaku. Orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan tentu tidak mau melanggar peraturan-peraturan tersebut, baik peraturan yang dibuat oleh sesama manusia maupun peraturan yang dibuat oleh Allah swt.

e.       Contoh Pengamalan amal

Amal merupakan suatu perbuatan yang diniatkan karena Allah. Seperti kita ketahui sekarang segala perbuatan yang diniatkan hanya untuk Allah swt itu disebut dengan amal saleh. Demikian ada beberapa macam yang termasuk perbuatan amal saleh yang dapat dilakukan oleh seorang muslim. Contohnya berupa pengabdian kepada Allah swt diantaranya adalah sebagai berikut:

1)      Tidak meninggalkan shalat lima waktu, akan semakin bertambah pahalanya jika dilengkapi dengan shalat sunnah

2)      Menunaikan ibadah puasa ramadhan atau puasa sunnah yang lain, misalnya puasa senin kamis, atau puasa arafah

3)      Berperilaku husnudzon yaitu berprasangka baik kepada setiap ujian hidup dari Allah swt yang sedang diterima

4)      Menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.[11]

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari pemaparan materi diatas dapat disimpulkan bahwa iman adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan dan dilakukan dengan perbuatan. Islam adalah sikap penyerahan diri ( kepatuhan) seorang hamba kepada tuhannya dengan senantiasa melaksanakan perintahnya, dan menjauhi larangannya. Ihsan adalah perbuatan baik. Dan ilmu adalah pengetahuan/kepandaian tentang sesuatu. Amal adalah perwujudan dari sesuatu yang menjadi harapan jiwa, baik ucapan, perbuatan anggota badan ataupun perbuatan hati.

Contoh pengamalan iman. Salah satunya yaitu iman kepada Allah seperti menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Pengamalan Islam yaitu Senantiasa melaksanakan ibadah kepada Allah swt dengan penuh keikhlasan dan rasa butuh yang sangat dalam, sehingga tidak merasa terpaksa dan terbebani. pengamalan ihsan yaitu ihsan pada orang yang berbuat buruk. Pengamalan Ilmu yaitu Ia tidak menyimpang dari aturan hukum dan tradisi. Pengamalan amal yaitu segala perbuatan yang diniatkan hanya untuk Allah swt atau biasa disebut dengan amal saleh.

B.     Saran

Dengan disusunnya makalah Pokok-pokok Ajaran Islam: Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal ini, kami berharap pembaca dapat mengetahui kajian Studi Keislaman lebih jauh lagi, mengenai pembahasan Pokok-pokok Ajaran Islam: Iman, Islam dan Ihsan, Ilmu dan Amal dari berbagai sumber yang lainnya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

At-Tamimiy Muhammad. 2017. Kitab Tauhid (Terjemahan: H Firdaus). Jakarta. Darul Haq.

Abduh Muhammad. 1992. Risalah Tauhid (Terjemahan: H Firdaus). Jakarta. Rajawali Press.

Harsono Ibrahim. 2009. Membangun AKIDAH dan AKHLAK. Solo. PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Adniin Muhyi. 1978. Matan Arba’in An-Nawawiyah. Bairut. Muassanah Ar-Risalh

Muahimin. 2008. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

Al-Jurjaaniy. 1983. At-Ta’rlifst. Lebanon. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah Bairrut.

Pudjiani Tatik, Bagus Mustakim. 2019. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Bogor. PT Pustaka Setia.



[1]Muhammad At-Tamimiy, Kitab Tauhid (Terjemahan : H Firdaus), (Jakarta: Darul Haq, 2017) h. 9

[2]Muhammad Abduh, Risalah Tauhid (Terjemahan : H. Firdaus), (Jakarta : Rajawali Press, 1992) h. 84

[3]Muhammad Abduh, Risalah Tauhid (Terjemahan : H. Firdaus), (Jakarta : Rajawali Press, 1992) h. 84

[4]Muhammad At-Tamimiy, Kitab Tauhid (Terjemahan : H Firdaus), (Jakarta: Darul Haq, 2017) h. 9

[5]Ibrahim Harsono, Membangun AKIDAH dan AKHLAK, (Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2009) h. 24-25

[6]Ibrahim Harsono, Membangun AKIDAH dan AKHLAK, (Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2009) h. 25-26

[7]Muhyi Ad-Diin, Matan Arba’in An-Nawawiyah, (Bairut: Muassanah Ar-Risalha, 1978) h. 47

[8] Muhyi Ad-Diin, Matan Arba’in An-Nawawiyah, (Bairut: Muassanah Ar-Risalha, 1978) h. 47

[9] Muahimin. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008) h. 33-34

[10]Al Jurjaaniy, At-Ta’rlifat, (Lebanon: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah Bairrut, 1983) h. 87

[11]Tatik Pudjiani, Bagus Mustakim. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (Bogor: PT Pustaka Setia, 2019) h. 237


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH TASAWUF IRFANI/AMALI : RABI’AH AL-ADAWIYAH, ZUN NUN MISRI, AL-JUNAID, AL-HALLAJ, AL-BUSTAMI (III)

USHUL FIQH