MAKALAH TASAWUF IRFANI/AMALI : RABI’AH AL-ADAWIYAH, ZUN NUN MISRI, AL-JUNAID, AL-HALLAJ, AL-BUSTAMI (III)
Kelompok 5
Susilawati (210101090)
Indri Julianti (210101033)
Azzah Ulia Rona (210101117)
Dosen Pengampu: Muhammad Muttaqin M.Pd.I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Ilmu tasawuf bukanlah ilmu yang stagnan di
tempat. Walaupun nama tasawuf baru terdengar mulai awal-awal abad ke II hijriah,
tetapi dalam perjalanannya mengalami perkembangan yang cukup signifikan.
Hadirnya berbagai tokoh tasawuf memperkaya cara pandang ilmu tasawuf.
Pembagian tasawuf dikategorikan sesuai
menurut pemikiran dan konsep ajarannya. Pertama tasawuf akhlaki adalah tasawuf
yang berusaha mewujudkan akhlak mulia dalam diri sufi dan menghindari diri dari
akhlak tercela. Kedua tasawuf falsafi adalah tasawuf yang didasarkan pada
keterpaduan teori-teori tasawuf dan filsafat. Ketiga tasawuf irfani, tasawuf irfani
adalah tasawuf yang berusaha menyingkap hakikat atau ma’rifat yang diperoleh
dengan tidak melalui logika, atau pembelajaran tetapi, melalui pemberia tuhan,
atau mauhibah.[1]
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian tasawuf irfani ?
2. Apa
saja macam-macam metode tasawuf irfani ?
3. Bagaimana
biografi dan pemikiran tokoh-tokoh Tasawuf Irfani ?
C. Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui pengertian tasawuf irfani.
2. Untuk
mengetahui macam-macam metode tasawuf irfani.
3. Untuk
mengetahui biografi dan pemikiran tokoh-tokoh tasawuf Irfani
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Tasawuf Irfani
Tasawuf irfani adalah tasawuf yang
berusaha menyingkap hakikat kebenaran atau ma’rifat diperoleh dengan tidak
melalui logika atau pembelajaran maupun pemikiran, tetapi melalui pemberian
tuhan secara langsung atau biasa disebut dengan mauhibah. Ilmu itu diperoleh
karena seorang sufi yang berupaya melakukan Tafsiyat Al-Qalb, dengan hati yang
suci seseorang dapat berdialog secara batiniah dengan tuhan, sehingga
pengetahuan ma’rifah dan kebenaran terlingkup melalui ilham maupun intuisi.
Secara bahasa, kata irfani bersal
dari bahasa arab yang merupakan bentuk mashdar dari arafa bermakna dengan
ma’rifah, atau dalam istilah yunani disebut gnosis, yaitu pengetahuan tentang
sesuatu yang diperoleh dari berfikir atau tafakkur dan kontemplasi atau
tadabbur. Sedangkan secara istilah kata irfan merupakan orang yang benar-benar
mengenal Allah melalui dzauq dan kasyup. Dan ahli irfan atau orang irfani
adalah seseorang yang memperoleh penampakan tuhan, sehingga pada dirinya tampak
kondiri-kondisi hati tertentu (ahwal).[2]
B.
Macam-macam
metode tasawuf irfani
1.
Riyadhah
Riyadhah
adalah latihan kejiwaan melalui upaya membiasakan diri agar tidak melakukan
perihal yang mengotori jiwanya. Sesuatu pembiasaan itu dilakukan terus-menerus
secara rutin sehingga seseorang benar-benar terlatih, khususnya menahan diri
agar terjauh dari berbuat maksiat maupun dosa. Riyadhah bukanlah perkara mudah,
sehingga dalam pelaksanaannya diperlukan mujahadah, yaitu kesungguhan dalam
berusaha meninggalkan sifat-sifat buruk.
2.
Tafakur
Secara
harfiyah tafakur berarti memikirkan sesuatu secara mendalam, sistem atis dan
terperinci. Menurut Imam Al-Ghazali dalam badri, 1989 yaitu, jika ilmu sudah
sampai pada hati, keadaan hati akan berubah, jika sudah berubah, maka perilaku
anggota badan juga akan berubah.
3.
Takziyah
An-Nafs
Secara
harfiyah terdiri dari dua kata yaitu takziya dan an-nafs. Kata takziyah berasal
dari bahasa arab, yaitu dari kata zakka yang berarti penyucian. Sedangkan
an-nafs bearti jiwa, jadi takziyah an-nafs adalah penyucian jiwa. Berikut
tertuang didalam QS Asy Syam : 7-10
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ٧ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ٨ قَدْ أَفْلَحَ
مَنْ زَكَّاهَا ٩ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ١٠
Artinya: Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan) nya. Maka
dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh
beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi bagi orang yang
mengotorinya. (QS. Asy-Syams : 7-10)
4.
Dzikrullah
Kata
dzik berasal dari bahasa arab, yang berarti mengisyaratkan, mangangumkan,
menyebut atau mengingat-ingat. Berzikir kepada Allah sebagai tuhan yang
disembah dengan sebaik-baiknya. Dzikrullah adalah tuntutan masalah Ruhiyah,
atau berhubungan dengan masalah pengalaman Ruhiyah (batin). Hal tersebut
sebagaimana yang tertuang didalam QS. Al-Baqarah: 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya: Maka ingatlah kepada-ku, aku pun akan ingat
kepadamu. Bersyukurlah kepada-ku dan janganlah kamu ingkar kepada-ku. (QS.
Al-Baqarah: 152)[3]
C.
Biografi
dan Pemikiran Tokoh-tokoh Tasawuf Irfani
1.
Rabi’ah
Al-Adawiyah
a.
Biografi
Rabi’ah Al-Adawiyah
Nama
lengkap Rabi’ah adalah Rabi’ah bin Ismail Al-Adawiyah Al-Bashriyah Al-Qaisiyah.
Ia lahir pada tahun 95 H/713 M disuatu perkampungan dekat kota Bashrah (irak)
dan ia wafat di kota itu pada tahun 185/801 M. Ia dilahirkan sebagai putri
keempat, orang tuanya menamakan Rabi’ah. [4]
b.
Pemikiran
Rabi’ah Al-Adawiyah
Berikut merupakan
pemikiran Rabi,ah Al-Adawiyah mengenai apa itu cinta kepada Allah yaitu sebagai
berikut:
1)
Sebagai
ekspresi cinta hamba kepada Allah, maka cinta itu harus menutup seling kekasih
atau yang dicintai dengan kata lain maka:
a)
Ia
harus memalingkan punggungnya dari dunia dan segala daya tariknya.
b)
Ia
harus memisahkan dirinya dari hal-hal yang bersifat duniawi, dengan kata lain
harus fokus pada satu tujuan, yaitu akhirat tanpa memikirkan duniawi.
c)
Ia
harus meninggalkan semua keinginan nafsu duniawi, dan tidak memberikan peluang
adanya kesenangan dan kesengsaraan. Karena kesenangan dan kesengsaraan
dikhawatirkan mengganggu perenungan pada yang maha suci.
2)
Kadar
cinta kepada Allah itu harus tidak ada pamrih apapun, artinya, seseorang tidak
dibenarkan mengharap balasan dari Allah. Baik ganjaran pahala, maupun
pembebasan hukuman, dan melalui jalan cinta inilah jiwa yang mencintai akhirnya
mampu menyatu dengan yang dicintai dan didalam kehendaknya itulah akan
ditemukan kedamaian.[5]
2.
Zun
Nun Misri
a.
Biografi
Zun Nun Misri
Zun
Nun Misri memiliki nama lengkap Abu Al-Faid Tsauban bin Ibrahim. Beliau
dilahirkan di salah satu khawasan di Mesir barnama Ekhim pada tahun 180 H
(798). Dan wafat pada pada tahun 246 H (856 M). julukan Zun Nun diberikan
kepadanya berhubungan dengan berbagai kelebihan yang diberikan Allah kepadanya.
Posisi
Al-Misri dalam tasawuf dilihat penting karena dialah orang pertama di Mesir
yang membicarakan masalah ahwal dan maqamat para wali. Dia juga dipandang
sebagai bapak faham ma’rifat.[6]
b.
Pemikiran
Zun Nun Misri
1)
Maqamat
Dalam
bahsa Al-Thusi menurut pemikiran Al-Misri tentang maqamat terbagi menjadi beberapa
tingkatan yaitu at-tawbah, al-sabr, al-tawakal, dan al-ridla.
Menurut
Al-Misri at-tawbah terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu:
a)
Orang
yang bertobat dari dosa dan keburukanny.
b)
Orang
yang bertobat dari kelalaian mengingat Allah.
c)
Orang
yang bertobat karena memandang kebaikan dan ketaatannya.
Keterangan
Al-Misri tentang al-sabr dikemukakan dalam bentuk dialog dari sebuah
riwayat. Berikut contoh ucapan misri selagi kedua tangan dan kakinya dibelenggu
sambil dibawa ke hadapan penguasa dengan disaksikan oleh banyak orang. Ia
berkata “ ini adalah salah satu pemberian tuhan dan karunianya, semua
perbuatan tuhan nikmat dan baik.”
At-tawakal menurut al-misri adalah berhenti memikirkan diri
sendiri dan tidak merasa memiliki daya dan kekuatan. Intinya penyerahan diri
sepenuhnya kepada Allah disertai tidak dimilikinya kekuatan. Sedangkan al-ridla
adalah kegembiraan hati karena berlakunya ketentuan tuhan.
2)
Ahwal
Ahwal
adalah bentuk jamak dari kata “hal” yang berarti sifat dan keadaan sesuatu. Hal
merupakan pemberian yang berasal dari tuhan kepada hambanya yang
dikehendakinya.[7]
Dalam bagian ini
al-misri membahasa tentang cinta kepada tuhan. Cinta kepada tuhan oleh
al-misri, dijadikan sebagai pertama dari empat ruang lingkup pembahasan tentang
tasawuf, karena ia melihat sebagai dari tanda-tanda orang yang mencintai Allah
dengan mengikuti kekasih Allah, yakni nabi dalam hal akhlak, perbuatan, segala
perintah dan sunnahnya.[8]
3)
Ma’rifah
Ma’rifah
secara etimologi berarti pengetahuan atau mengetahui sesuatu yang
seyakin-yakinnya. Sedangkan secara terminologi ma’rifah adalah mengetahui tuhan
dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat tuhan. Dalam kitabnya al-qalam
alam al-basmalah ma’rifah terbagi menjadi tiga klasifikasi yaitu:
a)
Ma,rifah
tauhid yang dialami oleh orang-orang
awam.
b)
Ma’rifah
alasan dan uraian mengenai tuhan yang dialami oleh ilmuan, filsuf dan
sastrawan.
c)
Ma’rifah
tentang sifat-sifat keesaan tuhan yang dialami oleh para wali.[9]
Menurut al-misri bahwa ma’rifah hanya terdapat
pada kaum sufi yang sanggup melihat tuhan dengan hati sanubari mereka.
Pengetahuan sejenis ini khusus diberikan tuhan kepada kaum sufi. Ini menjelaskan
bahwa ma,rifah hanya diperoleh dari pemberian tuhan, bukan hasil pemikiran.[10]
3.
Al-Junaid
a.
Biografi
Al-Junaid
Nama
lengkapnya adalah Abu Al-Qasim Al-Junaid bin Muhammad Al-Khazzaz Al-Nihawandi,
lahir di wihawand irak. Menetap di baghdad dan meninggal di baghdad pada tahun
297 H (910 M). Dia adalah seorang sufi yang cukup terkenal dengan seluruh
wawasannya.
b.
Pemikiran
Al-Junaid
Kefanaan
Al-Junaid adalah peniadaan diri dan segala sesuatu kecuali Allah yang kemudian
hidup di alam baqa. Perlu diperhatikan bahwa Al-Junaid mengatakan: “tauhid
yang secara khusus dianut oleh para sufi adalah pemisahan antara yang qadim
dengan yang hulus”. Dengan pemikiran Al-Junaid, maka dipandang sebagai
orang yang mendasarkan tasawuf kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Fana juga berarti
al-fana am al-nafs yaitu leburnya perasaan dan kesaadaran tentang adanya
seorang sufi, dimana wujud jasmani sudah dirasakan tidak ada lagi pada kondisi
ini yang tinggal hanyalah wujud rohani dan ketika itu ia bersatu dengan tuhan.
4.
Al-Hallaj
a.
Biografi
Al-Hallaj
Nama
lengkap Al-Hallaj adalah Abu Al-Mughist Al-Husain bin Manshur bin Muhammad
Al-Baidhawi, lahir di baida, di wilayah persia. Pada tahun 244 H/ 855 M. Ia
tumbuh dewasa dikota wasith, dekat baghdad. Ia diberi gelar Al-Hallaj karena
penghidupannya yang diperoleh dari memintal wol.[11]
b.
Pemikiran
Al-Hallaj
Diantara
ajaran Al-Hallaj yang paling terkenal adalah al-hulul dan wahdat asy-syudud
yang kemudian melahirkan paham wihdat al-wujud (kesatuan wujud) yang
dikembangkan ibnu arabi. Kata al-hulul berasal dari bahasa arab yang memiliki
arti menempati suatu tempat. Adapun al-hulul menurut ilmu tasawuf adalah paham
yang mengatakan bahwa tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk
mengambil tempat didalamnya setelah sifat-sifat kemanuisaan yang ada dalam
tubuh itu dilenyapkan. Al-Hallaj berpendapat bahwa dalam diri manusia terdapat
sifat-sifat ketuhanan. Sebagaimana di dalam QS. Al-Baqarah: 34
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ
اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya: “dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para
malaikat, sujudlah kamu kepada adam. Maka merekapun sujud, kecuali iblis. Ia
menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.” (QS.
Al-Baqarah: 34)
Pada
ayat diatas. Allah memberi perintah kepada malaikat untuk bersujud kepada adam.
Karena yang berhak diberi sujud hanya Allah swt. Al-hallaj memahami bahwa dalam
diri adam sebenarnya ada unsur ketuhanan. Ia berpendapat demikian karena
sebelum menjadi makhluk. Allah melihat zatnya dan cinta yang tidak dapat
disifatkan. Menurut Al-Hallaj pada hulul terkandung kefanaan total kehendak
manusia dalam kehendak ilahi, sehingga setiap kehendaknya adalah kehendak
tuhan. Demikian juga tindakannya.
Dapat
disimpulkan bahwa hulul yang terjadi pada Al-Hallaj tidak real karena memberi
pengertian secara jelas adanya perbedaan antara hamba dan tuhan. Dengan
demikian hulul yang terjadi pada Al-Hallaj hanyalah kesadaran psikis yang berlangsung
pada kondisi yang menurut ungkapannya saja. Jadi dapat dikatakan bahwa seorang
hamba tidaklah mempunyai sifat ketuhanan, karena seorang hamba dan tuhan
mempunyai perbedaannya masing-masing. Seorang hamba tidak punya sifat ketuhanan
karena ia adalah seorang manusia biasa, sedangkan Allah mempunyai sifat/dzat
ketuhanan karena ia adalah seorang tuhan. Dengan kata lain keduanya tetap ada
perbedaan, seperti dalam syairnya air tidak dapat menjadi anggur meskipun
keduanya telah bercampur.[12]
5.
Al-Bustami
a.
Biografi
Al-Bustami
Nama
lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa bin Surusyan Al-Bustami. Beliau
dilahirkan di daerah Bustam (Persia) tahun 874-M. Dan ia meninggal pada tahun
974 M. Nama kecilnya adalah Thaifur.
b.
Pemikiran
Al-Bustami
Pemikiran
Al-Bustami yang paling utama adalah fana dan baqa. Dari segi bahasa fana
berasal dari kata faniyah yang berarti musnah atau lenyap. Dalam istilah
tasawuf fana adalah sebagai keadaan moral yang luhur. Pencapaian Abu Yazid ke
tahap fana setelah meninggalkan segala keinginan selain keinginan kepada Allah.
Seperti tampak dalam ceritanya yaitu:
“Setelah Allah
menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, maka aku mendengar puas darinya.
Maka diriku dicap dengan keridhaannya. Mintalah kepadaku semua yang kau
inginknan, katanya. Engkaulah yang aku inginkan, jawabku. Karena engkau lebih
utama dari pada anugerah, lebih besar dari pada kemurahan, dan melalui engkau
aku mendapat kepuasan dalam dirimu”.[13]
Jalan menuju fana
menurut Abu Yazid dikisahkan dalam mimpinya menatap tuhan. Ia bertanya
“Bagaimana caranya agar aku sampai kepadamu?”. Tuhan menjawab “Tinggalkan diri
(nafsu)mu dan kemarilah.” Abu Yazid pernah melontarkan kata fana pada salah
satu ucapannya.
“Aku tahu pada
tuhan melalui diriku hingga aku fana, kemudian aku tahu padanya melalui
dirinya, maka akupun hidup.”
Adapun baqa’
berasal dari kata Baqiya. Dari segi bahasa arab artinya tetap. Sedangkan
menurut istilah Akhlak Tasawuf baqa berarti mendirikan sifat-sifat terpuji pada
Allah swt. Paham baqa tidak bisa dipisahkan dengan paham fana. Keduanya
merupakan paham yang berpasangan. Karena jika seorang sufi mengalami fana,
ketika itu juga ia mengalami baqa.[14]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
pembahasan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa Tasawuf
irfani adalah tasawuf yang berusaha menyingkap hakikat ma’rifat yang diperoleh
dengan tidak melalui logika, tetapi melalui pemberian tuhan secara langsung
atau biasa disebut dengan mauhibah.
Macam-macam
tasawuf irfani adalah Riyadhah, Tafakur, Takziyah An-Nafs, Dzikrullah.
Rabi’ah
Al-Adawiyah. Nama lengkapnya adalah Rabi’ah bin Ismail Al-Adawiyah Al-Bashriyah
Al-Qaisiyah. Ia lahir pada tahun 95 H/713 M di kota Bashrah (irak) dan ia wafat
di kota itu pada tahun 185/801 M.
Zun
Nun Misri. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Faid Tsauban bin Ibrahim. Beliau
dilahirkan di khawasan di Mesir barnama Ekhim pada tahun 180 H (798). Dan wafat
pada pada tahun 246 H (856 M).
Al-Junaid.
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Qasim Al-Junaid bin Muhammad Al-Khazzaz
Al-Nihawandi, lahir di wihawand irak. Beliau meninggal di baghdad pada tahun
297 H (910 M).
Al-Hallaj.
Nama lengkap Al-Hallaj adalah Abu Al-Mughist Al-Husain bin Manshur bin Muhammad
Al-Baidhawi, lahir di baida (persia) tahun 244 H/ 855 M. Dan beliau meninggal
pada tahun 922 M.
Al-Bustami.
Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa bin Surusyan Al-Bustami. Beliau
dilahirkan di Bustam (Persia) tahun 874 M. Dan beliau meninggal pada 947 M.
Pemikiran Al-Bustami adalah fana dan baqa.
B.
Saran
Dengan disusunnya Makalah Tasawuf
Irfani/Amali : Rabi’ah Al-Adawiyah, Zun Nun Misri, Al-Junaid, Al-Hallaj,
Al-Bustami ini, kami berharap pembaca dapat mengetahui kajian Ilmu Tasawuf
lebih jauh lagi, mengenai Tasawuf Irfani/Amali : Rabi’ah Al-Adawiyah, Zun Nun
Misri, Al-Junaid, Al-Hallaj, Al-Bustami dari berbagai sumber yang lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Alba,
Cecep. 2012. Tasawuf dan Terekat (Dimensi Esetoris Islam). Bandung. PT.
Remaja Rosdakarya.
Raizha,
Gafina. 2003. Warisan Para Sufi. Yogyakarta. Pustaka Sufi.
Anwar,
Rosihan. 2010. Akhlak Tasawuf. Bandung. CV Pustaka Setia.
Miswar.
2013. Akhlak Tasawuf. Jakarta. Cita Pustaka Media Perintis.
Rusli,Ris’an.
2013. Tasawuf dan Terekat. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.
Saviri,
Sara. 2000. Demikianlah Kaum Sufi Berbicara. Bandung. Pustaka Budaya.
[1]Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat
(Dimensi Esetoris Ajaran Islam), (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya 2012) h. 46
[2]Gafna Raizha, Warisan Para Sufi,
(Yogyakarta : Pustaka Sufi, 2003) h. 73
[3]
Gafna Raizha, Warisan Para
Sufi, (Yogyakarta : Pustaka Sufi, 2003) h. 73
[4]Rosihan Anwar, Akhlak Tasawuf,
(Bandung: CV Pustaka Setia, 2010) h. 253-254
[5]Rosihan Anwar, Akhlak Tasawuf,
(Bandung: CV Pustaka Setia, 2010) h. 253-254
[6]Miswar. Akhlak Tasawuf.
(Jakarta: Cita Pustaka: 2013) h. 124
[7]Ris’an Ruslin, Tasawuf dan
Terekat, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013) h. 54-59
[8]Ris’an Ruslin, Tasawuf dan
Terekat, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013) h. 61
[9]Ris’an Ruslin, Tasawuf dan
Terekat, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013) h. 63
[10]Jamil, Akhlak Tasawuf,
(Medan: Referensi, 2013) h. 123
[11]Rosihan Anwar, Akhlak Tasawuf,
(Bandung: CV Pustaka Setia, 2010) h. 265
[12]Sara Saviri. Demikianlah Kaum
Sufi Berbicara. (Bandung: Pustaka Budaya, 2000) h. 23
[13]Rosihan Anwar, Akhlak Tasawuf,
(Bandung: CV Pustaka Setia, 2010) h. 265
[14]Rosihan Anwar, Akhlak Tasawuf,
(Bandung: CV Pustaka Setia, 2010) h. 267
Komentar
Posting Komentar